MENGGUNAKAN Jadwal sholat digital UNTUK MASJID SEBAGAI PENGINGAT WAKTU UNTUK SHOLAT TEPAT WAKTU

shalat yang khusuk, mewujudkan ubudiah yang benar-benar sebab Allah, ikhlas, pasrah, rendah diri terhadap zat yang Mahasuci.

Di dalam shalat, mereka meminta segala sesuatu untuk Allah, dan meminta dari-Nya hidayah untuk mengarah ke jalan yang lurus, dan Allah-lah Mahakaya lagi Mulia, kepada-Nyalah berkenan memohon ijabah dan melimpahkan segala sesuatu, baik dalam urusan cahaya hidayah, limpahan rahmat, dan ketenangan. Shalat pada hakikatnya adalahsarana terbaik guna mendidik jiwa dan memperbaharui motivasi dan sekaligus sebagai pensucian akhlak.

kita pun diminta supaya selalu memahon atau berdoa supaya selalu sehat.

Bagi pelakunya sendiri, shalat tersebut adalahtali penguat yang bisa mengendalikan, ia ialah pelipur lara dan menyelamatkan dari rasa fobia dan cemas, pun memperkuat kelema- han, dan senjata untuk yang merasa terpencil Dengan shalat saya dan anda bisa memohon bantuan atas ujian zaman, desakan tekanan orang lain, dan kekejaman para kejahatan Allah SWT.

Nabi aw, saat menghadapi persoalanı genting, beliau berlindung melalul shalat.

Ruku dan sujud dalam shalatnya yang dilaksanakan secara khusyu membawa rasa dekat pada Allah dan bareng Allah pula beliau merasa berada dalam suasana di sebuah tempat sandaran yang kokoh, sehingga menikmati aman tentram.

Percaya diri dan sarat keyakinan, dan mendapat perasaan damai, sabar terhadap segala format ujian dan cobaan, serta rela terhadap takdir Allah, memperbaharui janji dan ikatan bareng Allah atas dasar kesetiaan sejati dan kejujuran, dan memperkokoh cita cita yang besar dalam dominasi Allah dan pertolongan untuk hamba-Nya yang beriman yang bekerja secara jujur tanpa pamrih Shalat tersebut membersihkan jiwa dan mensucikannya dari sifat-sifat buruk, terutama sifat-sifat yang bisa mengalahkan teknik hidup materialls, schingga menjadikan dunia tersebut lebih urgen dari segala galanya, mengkomersialkan ilmu mereka dan menghempaskan rohaniahnya.

Kasus semacam ini diberikan contoh Allah Swt. dalam Sosungguhnya manusia tersebut di ciptakan mempunyai sifat keluh kesah lagi kikir. Apabila la ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan bilamana ia mendapat kebajikan ia amat kikir, kecuali orang orang yang menggarap shalat yang mereka tersebut tetap mengorjakan shalatnya.” [Al Ma’aarid, 19 23

Orang yang benar-benar mengemban shalat, maka dari shalat yang satu ke shalat lainnya merasa sempit masa-masa di dalam bersimpuh di bawah dominasi Allah, ia memohon kepada-Nya untuk diperlihatkan jalan yang lurus dalam suasana pasrah dan khusyu.

Begitulah seterusnya dalam menyambut shalat berikutnya, sampai-sampai terasa tak terdapat putus putusnya hubungan dengan-Nya dan tidak putus-putusnya pula menilik Allah salah satu shalat yang satu ke shalat yang lain, sampai-sampai tak sempat lagi mengerjakan maksiat. Demikianlah Allah menaungi hamba Nya yang memeli

hara shalat shalatnya sebab merindukan perjumpaan dengan dan sama sekall tidak barangkali menjauhkan-Nya. Untuk siapa saja yang merawat waktu-waktu shalat dan destinasi shalatnya benar-benar sebab Allah, mengajar dirinya menentan mengungguli arus kegiatan hidup, tidak mendahulukan kepen. tingan materi, dengan begitu jiwanya dapat menaklukkan ujian dunia besera kesenangannya, demikian pula dalam menumpu numpuk harta Allah berfirman

“Lakl-laki yang tidak diabaikan oleh perdagangan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (darn) mendiri- kan shalat, dan (dar) menunaikan zakat. Mereka fobia pada sebuah hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjad goncang.”(An Nur37)

Dalam shalat ada bekas dan kesan edukasi lainnya Misalnya, mendidik jiwa mereka yang shalat tersebut untuk dapat merasakan wujud dari kesatuan umat di kalangan kaum muslimin di semua penjuru dunia.

Perasaan persatuan yang demikian pun menimbulkan saling definisi dan saling melengkapi sesama kaum muslimin dalam kehidupan atau tanah air yang satu yang terhimpun di dalam mesjid masing-masing shalat Setiap yang shalat selalu mengecek masuknya masa-masa shalat dan mengawal atau berjuang keras guna menunaikannya tepat pada waktunya, cocok dengan peraturan syara, dan menaklukkan nafsunya guna tidak terbenam dalam kesibukan-kesibukan demi terlaksananya kewajiban-kewajiban terhadap Rabbnya Menyangkut tertibnya jamaah shalat yang baris lurus di be- lakang imam dengan tanpa adanya celah kosong (antara yang satu dengan jamaah di kanan kirinya) membalikkan kaum muslimin pada perlunya nidzam (tertib organisasi)

Adapun tentang mengekor Imam, tidak mendahuluinya meski sesaat, mengindikasikan adanya ketaatan mutlak dan komitmen atau loyal, serta meniadakan penolakan terhadap perintah-perintahnya diharuskan untuk makmum guna mengingatkannya (dengan mem Kemudian pasal Imam yang lalai (dalam bacaan misalnya) baca subhanallah) ini menunjukkan kewajiban rakyat guna mene- gur atau mengingatkan pemimpinnya andai lalai atau melakukan kekeliruan Demikian pun pada shalat berjamaah, dapat diacuhkan dalam memenuhi saf tidak didasarkan atas kedudukan sosial jamaah, tidak memandang kekayaan atau pangkat meski dalam saf terdepan sekalipun.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *